Musim Haji 1429 H semakin dekat.. Tgl 4 November 2008, kloter pertama sudah mulai masuk Asrama Haji untuk diberangkatkan ke Madinah pada tgl 5 November 2008. Sebelum berangkat saya mau berbagi daftar perlengkapan yang sebaiknya dibawa terutama untuk jemaah haji yang perempuan. Kalo ada yang kurang atau lebih mohon dikoreksi ya.. Daftar ini jauh dari sempurna, karena tidak disusun berdasarkan pengalaman, melainkan kesimpulan dari bahan2 bacaan mengenai Haji yang dibaca sebelumnya. Pakaian dan Peralatan Ibadah Peralatan Tidur Alas kaki Dua yang di atas dipilih karena tidak mudah lepas kalo terinjak, dan lebih nyaman untuk berjalan jauh. Perawatan Tubuh dan Wajah Catatan: Obat - Obatan: Catatan: Buku - buku Peralatan Pendukung Harian Catatan: Tiga item paling atas juga bisa dibeli di sana. Lebih praktis. Selama di Madinah, kita juga mendapat makan 2x/sehari. Jadi belum perlu memasak Isi Tas saat Armina (Pake Tas Ransel Lebih Praktis) Semoga dapat membantu memudahkan Ibadah Haji kita. Semoga kita semua menjadi Haji yang Mabrur
Wednesday, October 29, 2008
Perlengkapan Haji untuk Perempuan
Posted by
Astri
at
14:19
7
comments
Labels: Haji dan Umroh, Perjalanan
Thursday, August 28, 2008
Bekal Haji (dan Umroh Juga)
Di antara sekian banyak hal yang saya persiapkan untuk berangkat ke Baitullah pada musim haji yang akan datang, yang paling saya tunggu2 akhirnya datang juga Peta Mekkah n Madinah dari Fahmi yang barusan pulang umroh beberapa hari yang lalu.
Pasti banyak yang heran kok malah siap2 peta? Kok gak siap2 manasik atau baca2 buku tentang haji? Gini ceritanya.. karena saya berangkat sebagai petugas kesehatan, tentunya pengenalan medan perlu dong.. Apalagi kalo sampai harus merujuk pasien (duh moga2 yang sekloter ama aku sehat semua) harus tau mana yang terdekat dan kalo perlu tau fasilitasnya selengkap apa dan sesuai nggak dengan kegawatan pasien yang akan dikirim.
Makanya seneng banget pas tadi siang ketemu Fahmi n dia bawain peta2 itu… walaupun agak KO juga ama peta yang Madinah karena full bahasa Arab. Untung ada mertua yang bakal ketiban tugas menterjemahkan Kalo peta yang Mekkah oke punya tuh, soalnya ada indeks daftar RS, Toko Buku, Restoran (dengan ejaan Rablish= Arab-English; halah ngarang dhewe), dilengkapi juga Peta Arafah dan Mina yang disertai legenda lokasi perkemahan jemaah Asia Tenggara…Yippy… Makasih banget lho, Mi…
Meskipun ada peta, gak membuat saya pede jalan2 di sana sendirian, gak kayak kalo di Indonesia. Bagaimanapun, adat istiadat di tempat yang akan kita kunjungi harus kita junjung. Apalagi kalo demi keamanan kita selama berada di sana.
Sekalian juga mau share bahan bacaan yang asyik buat teman2 yang akan menunaikan ibadah umroh atau syukur haji dalam waktu dekat:
- Menjadi Manusia Haji oleh Ali Syariati (Jalasutra). Aslinya buku ini berjudul Haji, tetapi di Indonesia diterjemahkan oleh banyak penerbit dengan berbagai macam judul, diantaranya: Makna Haji (Pustaka Zahra)
- Menjawab Masalah Haji, Umrah & Qurban oleh Yusuf Qardhawi (Embun Publishing).
- Do’a oleh Miftah Farid
- Panduan Ibadah Haji bagi Perempuan oleh Brilyantini (Hikmah)
- Oman, UAE & Arabian Peninsula (Lonely Planet)
- Modul - Modul Pelatihan bagi Petugas Haji yang menyertai Kloter (Depag) –> yang terakhir ini khusus buat saya
Oya, selain itu mau share juga soal vaksin Meningitis yang merupakan syarat pengurusan Visa untuk masuk Arab Saudi. Beberapa waktu terakhir ini vaksin tersebut susah banget dicari di mana2, incl saya dan suami yang sudah mengontak produsennya. Ternyata vaksin tersebut menghilang karena gagal panen (kayak tenaman aja, tapi bener lho… kan vaksin itu dibiakkan). So, kalo ada teman2 yang dalam beberapa bulan mendatang sampai 2 tahun ke depan ada rencana umroh atau malah berhaji, sebaiknya proaktif cari vaksin itu duluan deh, jangan ngandalin travel.
Kenapa saya menyarankan hal di atas? Karena perlindungan vaksin itu memiliki waktu yaitu 10 hari sampai 3 tahun, sehingga kalo divaksinnya satu hari sebelum berangkat ya manfaatnya gak maksimal. Kebalikannya kalo kita vaksin sampai 2 tahun sebelum tanggal keberangkatan, sertifikat vaksinnya masih bisa diterima. Denger2 sih bulan2 September - Oktober vaksinnya dah ada lagi.
Sedangkan buat manasik, ada banyak tempat untuk belajar. Bisa di KBIH atau buat yang terdaftar sebagai Jemaah Calon Haji biaya yang dibayarkan termasuk dapat manasik 14 kali di tingkat kecamatan dan kabupaten/ kota.
Moga2 bisa berguna bagi teman2 sekalian
Posted by
Astri
at
13:21
7
comments
Labels: Buku, Haji dan Umroh, Perjalanan
Saturday, August 2, 2008
Sate Lembut
Saat ke Jakarta bulan lalu, saya memang terpaksa melewatkan makan Mie Aceh dan Nasi Uduk Kebon Kacang, karena masalah waktu n beda selera ama dokterearekcilik. Sebagai gantinya, adik saya menyarankan mencoba sate lembut dan laksa yang juga terdapat di daerah Kebon Kacang yang baru saja diliput oleh teman2nya dari salah satu stasiun teve swasta di Indonesia.
Untungnya, supir yang mengantar kami cukup tahu jalan menuju tempat sate lembut yang lumayan mblusuk. Sempat pesimis juga karena jalan yang dilalui makin sempit, apalagi setelah berhenti di sebuah rumah sederhana yang dibilang adik saya, “ini tempatnya”.
Kemudian kami segera memedan 3 porsi Laksa dan 3 porsi Sate Lembut. Yang sampai duluan tentunya Laksa, karena satenya masih dibakar. Tanpa banyak omong, dokterearekcilik n Adhi langsung menyantap Laksa tersebut. Well, sebagai blogger saya jelas langsung memotret laksa tersebut dan menunggu sate matang karena harus menyandingkannya bersama
Sate datang saat Laksa di piring Adhi dan dokterearekcilik tinggal separuh. Mereka lagi - lagi langsung menyerbu, sedangkan saya tentunya langsung memainkan Ixus 75 Sebagai info, sate ini dibuat dari campuran daging dan kelapa yang dicincang halus dan dililitkan ke tusuk sate. Rasanya cukup gurih disertai rasa kelapa yang cukup menonjol. Porsi Laksa yang cukup besar membuat
saya merelakan beberapa tusuk sate dimakan Adhi. Oya, laksanya sendiri berisi lontong, perkedel, bihun dan kuah yang berwarna kekuningan.
Saat membayar saya kaget juga nih… Karena untuk makan dan minum 4 orang di warung yang relatif sederhana tersebut menghabiskan 128 ribu Meskipun enak tapi tetep aja kaget. Ternyata 1 porsi laksa dihargai 12 ribu dan 10 tusuk sate lembut dihargai 18 ribu, ditambah jus jeruk yang gak seberapa enak 5 ribu.
Moral of the story: Selalu tanyakan harga di tempat yang tidak menyediakan daftarharga, sesederhana apapun tempatnya
Rumah Makan Betawi H. Rohma
Jl. Kebon Kacang V/29, Tanah Abang
Jakarta Pusat
Posted by
Astri
at
09:42
2
comments
Labels: Kuliner, Perjalanan
Sunday, March 9, 2008
Keliling Jakarta Naik Busway, Yuuuk!
Perburuan saya ke Toko Buku minggu ini cukup menyenangkan buat saya karena berhasil menemukan sebuah buku saku yang sedang saya butuhkan. Judulnya KELILING JAKARTA NAIK BUSWAY, YUUUK!
Buat orang yang hampir tidak pernah menginjakkan kaki ke Jakarta kecuali urusan transit di Bandara (eh, itu mah Banten ya??) dan mendadak sekarang ada ‘tuntutan’ untuk sering ke sana untuk urusan pelatihan dan simposium dan datang sendirian, adanya buku ini terasa sangat membantu untuk memuluskan acara saya jalan2 setelah pelatihan dan simposium selesai.
Buku ini selain memuat peta jalur busway beserta haltenya, juga ada petunjuk mengenai tempat2 apa saja yang bisa dicapai dari halte tersebut. Selain itu juga ada daftar rute bus bandara, bus penghubung, bus reguler, kereta api dan titik pertemuannya dengan jalur busway. Ukurannya juga cukup kecil (10 x 15 cm, 76 halaman) sehingga bisa dimasukkan ke dalam saku celana atau masuk dalam tas tangan, dan tidak merepotkan jika kita harus membukanya dalam kendaraan umum. Tidak ketinggalan, buku ini dilengkapi ilustrasi2 kocak dari Muh Misrad alias pembuat komik strip Benny & Mice di KOMPAS MINGGU.
Kesimpulan: Kalo ada orang yang ‘buta’ Jakarta kayak saya dan berminat jalan2 mandiri di sana tanpa taksi atau tanpa macet, buku ini perlu banget untuk dimiliki.
Posted by
Astri
at
08:08
4
comments
Labels: Buku, Perjalanan
Tuesday, December 4, 2007
Oleh - Oleh dari 19th WECOC
19th WECOC (Weekend Course on Cardiology)sudah berlalu beberapa hari yang lalu (cieeee…) tapi masih berkesan banget buat saya
Kenapa begitu? Begini ceritanya….
Kesan pertama saat datang ke tempat acar diselenggarakan, waaaah rame ya… Lalu, agak2 hectic juga saat pendaftaran karena menangani rush pendaftar onsite (termasuk saya, karena terlambat membaca jadwal) Sempat agak2 khawatir gak kebagian t4 untuk mini course tapi ternyata kekhawatiran saya tidak terbukti. Jadilah saya mendaftar Mini course ECG dan ACS.
Kemudian masuk mengikuti Plenary Session I dan Pembukaan, kesan berikutnya ontime untuk kategori acara yang diselenggarakan di Indonesia kekeke… Di Surabaya belum pernah nemu acara kedokteran yang ontime mungkin bisa jadi masukan buat penyelenggara acara di Surabaya (termasuk dokterearekcilik). Sempat terlintas apa cuma awalnya aja yang on time ternyata tidak, semua acara berlangsung tepat waktu, termasuk makan siang
Kesan mendalam berikutnya adalah saat makan siang, paling tidak ada 3 jenis salad yang berbeda yang muncul saat makan siang dan semuanya favorit saya dari salad seafood, salad kentang, salad pasta, dan aduh masih banyak lagi. Jadilah selama di sana gak pernah menyentuh nasi sama sekali.
Untuk mini coursenya sempat ‘muntah-muntah’ waktu kuliah dan melihat contoh2 kasus ECG… Banyak banget!!! Mana habis gak tidur semalaman (inget pre-departure insomnia?) Tapi jadinya lebih gampang baca ECG so, tadi lebih pede waktu dapet pasien AMI di klinik.
Well, sebenernya kursus ACS yang bikin lebih pede ngadepin kasus AMI tadi siang. Bener hands on kursus akhir pekan yang baru lewat…. Pendahuluan sebelum ACLS
Yang lucu, selama acara banyak orang foto - foto. Bukan foto2 narsis gitu… Tapi memotret slide presentasi para pembicara terutama bagian bagan2 yang mempermudah pemahaman kita akan materi yang disampaikan? Nyatet? gak akan keburu aja….
Sooo, pengennya sih simposium dan pelatihan asyik kayak gini alias yang bener2 bisa langsung dipraktekin di lapangan juga sering diadain di Surabaya, gak cuma di Jakarta aja. Berat di ongkos dan akomodasinya, meskipun kalo buat acaranya gak seberapa mahal.
Oya, selama acara WECOC ini aku dapet 4 brosur acara yang akan diadain tahun depan Waaah, well prepared banget ya, jadi bisa siap2 nabung buat acara2 yang akan datang dan bisa posting buat di blog
Posted by
Astri
at
20:43
5
comments
Labels: Daily Life, Perjalanan
Thursday, November 15, 2007
Kembali Lagi
Akhirnya saya kembali lagi Kembali ngeblog maksudnya. Kalo pulang sih udah 5 hari yang lalu, cuma gak sempat posting apa2, habis begitu datang langsung disambut seumbruk kegiatan lainnya dan akhirnya tepar dengan sukses hari Minggu dan Senin yang lalu.
Kelud? Ya udah pada tahu kan kalo gak jadi mbledos, meskipun sempat pesss di hari kedatangan saya dan membuat tim PVMBG lari kalang kabut dari pos pemantau. Trus, pas Kelud dinyatakan SIAGA tgl 8 November 2007, para pengungsi di Pluncing sempat gak boleh langsung pulang, dan begitu boleh pulang saya sendiri yang getun, dan terharu… Melihat mereka begitu antusias pulang setelah sekitar 3 minggu tinggal di pengungsian yang apa adanya dan masih ada sedikit rasa was-was di hati mereka, jika sampai di rumah sang gunung malah meletus. Alhamdulillah, sampai hari ini yang ditakutkan tidak terjadi, meskipun sempat beberapa kali hujan abu.
Begitu sampai di rumah tanggal 9 November 2007, saya langsung mempersiapkan acara Mlaku - Mlaku Surabaya v 2.0 bersama milis Wisata Surabaya. Tgl 9 sih tinggal final touch aja karena sudah dipersiapkan jauh sebelum saya berangkat ke Kelud dan sudah ada Jimmy yang membantu persiapan selama saya pergi.
10 November 2007, sambil sedikit demam, jam 07.10 saya sudah nangkring di Kantor Pos Kebon Rojo sambil bawa berkotak - kotak roti menanti peserta acara jalan2 tadi. Ternyata baru 8 orang yang datang sampai pukl 07.30 maka kami menuju lokasi jalan2 pertama yaitu Gereja Katolik Kepanjen yang merupakan gereja tertua di Surabaya, cerita lengkap udah ada di blog Angki dan foto lengkap nan cantik ada di Multiplynya Fahmi.
Setelah selesai mendengar cerita dan berfoto - foto di Gereja Kepanjen, kami melanjutkan perjalanan menuju Tugu Pahlawan, untuk menjemput kenyataan bahwa sebenarnya Arek - arek Suroboyo itu melawan dengan sengit pada pertempuran 10 November 1945 selama 21 hari dan akhirnya, KALAH. Catat itu ya teman - teman… Diorama Elektronik di Tugu Pahlawan ini sangat membantu kita dalam memahami cerita dibalik Tgl 10 November tersebut.
Dari sana, kami melanjutkan perjalanan ke Arca Joko Dolog yang mestinya bernama Arca JOGO DOLOG tapi mbuh maneh siapa yang mengganti nama tapi ya sutralah, penjelasannya juga agak simpang siur.
Pusing di AJD maka kami pindah ke Balai Pemuda yang dulunya merupakan Klub (Simpangsche Socieiteit nek gak salah dan disingkat SS biar gak kepanjangan) di Jaman Belanda. Klub ini memiliki 3 ruang dansa yang sekarang dialihfungsikan menjadi gedung pameran, dan kantor UPTD Balai Pemuda, dan Surabaya Tourism Promotion Board. Sayangnya pegawai kantor UPTD Balai Pemuda tidak cukup ramah dalam menerima kami melihat - lihat bangunan2 di dalam Balai Pemuda, ya gitu deh sok tua, sok kuasa… Mengaguni gedung tua malah diusir2, eh, pegawainya makan di dalam kantor didiemin… Beteeeeee…. Oya, di sini kita baru tau, kalo Bioskop Mitra dulu itu Wine Cellarnya SS, dulu pelataran SS itu dibuat dari marmer dan katanya rusak setelah pembangunan Bioskop Mitra Dan ada sebuah monumen di Kolam Air Mancur yang memiliki plakat yang intinya bertuliskan Pribumi dan Anjing dilarang masuk ke dalam lingkungan SS
Bete banget gak sih? Makanya saya anti sama segala bentuk penindasan dan penjajahan.
Perjalanan ditutup dengan makan es krim di Zangrandi yang merupakan tempat makan es krim yang jadul banget… Es krimnya saya dari dulu kayak gitu2 aja rasanya gak berubah, tapi suasana yang asik… dengan kursi yang bikin susah berdiri bikin kita pengen pesen terus dan terus dan terus
Posted by
Astri
at
00:06
2
comments
Labels: Bencana Alam, Daily Life, Milis, Perjalanan
Monday, September 24, 2007
Displaced Persons Attract Outbreaks
Komentar dari Abblett di postingan saya tentang Bengkulu!!! Saat saya sudah di rumah membuat saya terhenyak, karena memang demikian adanya yang saya temukan selama di sana. Mungkin belum bisa benar2 disebut outbreak karena saya tidak memiliki data angka keseakitan dan kematian di daerah itu sebelum bencana sebagai pembanding. Tetapi memang ada peningkatan kasus penyakit2 tertentu seiring dengan bertambahnya hari.
Tidur di luar rumah baik di halaman maupun di hutan karena ketakutan tertimpa bangunan rumahnya sendiri atau tidak sempat melarikan diri saat tsunami datang, membuat mereka lebih terpapar dengan gigitan nyamuk. Belum lagi kurangnya pasokan air bersih membuat diare mulai menjangkiti balita –balita, beserta beberapa orang dewasa di sana.
Hal ini sempat saya sampaikan kepada dokter Puskesmas dan DInas Kesehatan setempat, jawabannya… “oh, kalo malaria dan diare biasa kok” Waks!!!
Bukan masalah biasa atau nggak deh… Masalahnya ini kondisi tidak biasa, Puskesmas perawatan hancur, Rumah Sakit kelebihan pasien. Pasien2 yang terkadang memerlukan perawatan pun ada yang ditolak. SO, apakah ini kondisi biasa? Jelas tidak!!
DI saat bencana datang, alangkah baiknya jika tenaga kesehatan selain difungsikan membantu kurangnya jumlah tenaga dan jangkauan ke daerah2 yang terisolasi tapi juga membantu mencegah terjadinya outbreak yang akan menambah beban di sana.
Bentuknya apa aja nih? Yang jelas terbayang pasokan air bersih harus terjaga, tempat buang hajat juga harus tersedia. Kejadian Mobil MCK terkunci di RS M Yunus Bengkulu juga menggelikan sekaligus membuat miris, banyak pasien dan keluarganya selain buang hajat di tetangga sekitar RS juga buang hajat di halaman.
Daerah endemis malaria membuat kelambu, insect repellent menjadi barang kebutuhan para korban bencana. Ketakutan untuk tidur di dalam rumah juga perlu diatasi. Masih cukup banyak rumah yang layak tinggal sehingga mereka tidak perlu tinggal di luar. Tetapi karena rasa takut yang seperti saya ceritakan di atas membuat mereka tidur di luar.
Banyak ya PRnya buat para pihak yang terjun ke bidang bencana. Padahal ini baru dari satu bidang lho, kesehatan. Belum bidang2 yang lain... Ayo siap2, negara kita kan termasuk yang rawan bencana alam :D
Posted by
Astri
at
16:57
2
comments
Labels: Bencana Alam, Daily Life, Perjalanan
Thursday, September 13, 2007
Rehat Sejenak
Rehat dulu ya dari blogger... Karena mau pergi ke suatu tempat, yang sinyal aja entah ada atau nggak apalagi koneksi internet :D Sampai ketemu lagi ya :D
Posted by
Astri
at
18:17
1 comments
Labels: Curhat, Daily Life, Perjalanan
Monday, September 3, 2007
Nasi Krawu Buk Tiban
Sepulang dari Lamongan, saya sempat mampir sebentar ke kota Gresik untuk mencicipi salah satu dari sekian banyak makanan khas kota Gresik, yaitu Nasi Krawu. Pada kesempatan ini warung yang saya datangi adalah milik Buk Tiban di Jl. Abdul Karim 49, Gresik.
Nasi Krawu sendiri adalah nasi dengan potongan jerohan dan suwiran daging yang terendam minyak, ditaburi serundeng 2 warna (oranye dan kuning), mangut dan sambel kehitaman yang pedesnya gak ketulungan. Bagi yang tidak suka jerohan bisa memilih nasi krawu dengan suwiran daging saja.
Yang unik dari Nasi Krawu Buk Tiban adalah sebagian besar lauk yang dimasukkan ke dalam pincuk anda diambil menggunakan tangannya tanpa bantuan sendok (kecuali saat mengaduk daging dan mengambil sambel), dan nasi krawu disajikan dalam pincuk bukan piring.
Kalo nasi krawunya sendiri jangan ditanya rasanya, endang bambang gulindang deh… alias oke banget, apalagi buat penggemar masakan yang asin2 seperti saya :D tapi saya sama sekali belum pernah mencoba yang jerohan. Cuma buat yang gak suka pedas harus waspada sama sambelnya. Selain pedas sekali, warnanya sama dengan mangutnya yaitu hitam kecoklatan. Kalo mau main aman lebih baik minta tanpa sambel. Tapi kalo suka berpetualang dengan rasa, sambelnya sama sekali tidak boleh dilewatkan.
Warungnya sendiri, buka dari jam 6 pagi sampai jam 5 sore. Letaknya di Jl. Abdul Karim 49, Telp: (031)3987191, Gresik di depan sebuah madrasah (MI Trate NU nek gak salah). Warungnya tidak terlalu besar, hanya menampung sekitar 10 – 12 orang. Karena tempatnya kecil, dan peminatnya banyak maka siap2 mengantri ya…
Harga satu porsi nasi krawu adalah 7000 rupiah, es jeruk nipis 2000 (tapi gak ada rasanya L ), hari itu saya juga membeli dagingnya untuk dibawa pulang dan dihargai 25000 lengkap dengan serundeng 2 warna, mangut, dan sambel. Hanya saja minyaknya agak kurang dari yang biasa disajikan.
So, jangan lupa mencoba nasi krawu kalau berkesempatan mengunjungi Gresik.
Posted by
Astri
at
23:47
4
comments
Labels: Kuliner, Perjalanan
Friday, May 11, 2007
Jogjakarta At Last...
Baru kemarin ninggalin Jogja... Setelah hampir 1 minggu menjelajahi kota tersebut, rasanya berat banget untuk kembali ke Surabaya. Serasa tidak ada yang istimewa di sini (separuh denial mode: ON).
Ceritanya ada acara PIT Ilmu Kesehatan Anak 3 yang diadakan di Jogja. Karena suamiku ikut ya aku ikut juga masa bengong di rumah mertua, males banget. Lagian suamiku pasti gak tau tempat2 asyik buat nongkrong atau cari oleh2.
Hari pertama n kedua karena sempat kena masalah dengan hotel, gak sempat jalan yang jauh2 cuma ke tempat standar aja, yaitu malioboro n malioboro mall, tujuannya sih cuma buat ngecek souvenir apa yang sedang in di sana n ngecek harga juga buat persiapan nawar.
Perburuan makanan khas Jogja diawali dengan Gudeg Bu Juminten (Jl. Asem Gede 14) yang relatif sepi di pagi hari serta rasa yang agak terlalu manis buat lidah saya. Setelah beristirahat sejenak, perjalanan diteruskan ke Jogja Expo Center (JEC) untuk melihat pameran buku yang kebetulan diadakan di sana, dan akhirnya berhasil menemukan buku karangan sejawat bloggers YusufAlam Romadhon dan beberapa titipan dari Surabaya. Setelah berkelana di JEC, perjalanan dilanjutkan menuju Jl. Taman Siswa untuk melalap Pempek Palembang Mang Pari 19 Ilir, yang pempeknya enak dan sausnya terlalu manis kalo nggak ditambahi cuka. Sedangkan untuk makan malam kita mencoba Jimbaran Resto (Jl. Damai) yang ramai, makan dengan alas daun bukan piring dan kepitingnya mencederai jari, dan dilanjutkan dengan kudapan ringan di Sagan Resto (Jl. Kolombo).
Keesokan harinya gak ada agenda khusus nyari makanan di mana, cukup sarapan di hotel n then nyari oleh2 di sepanjang jl. Malioboro buat orang2 di rumah n teman2 suami di RS. Dan yang paling menyenangkan adalah rencana makan malam di gubug udang Mang Engking di Jl. Godean km 16, yang meskipun jauh sebanding dengan rasanya yang uenak tenan (udang saus madu), benar2 finger licking goods, trus kepiting goreng dan kepiting saus tiramnya yang alhamdulillah tidak mencederai tangan dan juga uenak tenan.
Keesokan paginya, untuk persiapan pulang saya menuju Gudeg Yu Djum di Selokan Mataram (dekat kompleks UGM, Jl. Kaliurang), di sana saya memesan beberapa kendil gudeg untuk dibawa pulang keesokan harinya. Kalau kita makan di sana satu porsi nasi gudeg komplit dihargai 15 ribu, sedangkan yang gak komplit 10 ribu. Agak lebih mahal dibandingkan dengan Gudeg bu Juminten, tapi kalau tidak terlalu suka rasa manis di sinilah pilihan yang tepat.
Dilanjutkan dengan makan Iga Sapi Bali, Pertama di Dunia (Jl. Umbul Permai) yang rasanya wiih, enak banget. Iganya empuk, bumbunya nendang, kuahnya juga enak, tempatnya asri di tengah sawah, harganya juga gak terlalu mahal, sebanding dengan rasanya.
Sedangkan buat oleh2 yang standar aja yaitu beli Bakpia Pathuk di Jl. Aipda KS Tubun n Super Puding (Puding Kelapa Muda) di Jl. Herman Yohanes (Sagan)
Posted by
Astri
at
11:39
2
comments
Labels: Perjalanan
Tuesday, October 3, 2006
Saturday, September 16, 2006
Tenun Ikat dari Kefa
Masa tugas PTT saya yang menjadi lebih singkat dari yang direncanakan membuat saya sempat kalang kabut mencari tenun ikat untuk kenang-kenangan maupun oleh2 khas dari tempat saya bertugas.
Selama 1 tahun terakhir saya tinggal di Kefamenanu, Kab. Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Di sini ada 2 macam motif tenun ikat yaitu motif Insana dan Biboki. Keduanya menunjukkan daerah asal motif tersebut. Motif Insana cenderung berwarna cerah menggunakan benang toko (istilah para penenun untuk benang yang biasa mereka beli di toko), jenisnya ada dua yaitu sotis dan buna. Tenun sotis permulaannnya rata seperti kain pada umumnya sedangkan buna ada bagian yang menonjol seperti dibordir dan kita agak sulit menentukan mana bagian yang luar dan dalam. Tentu saja yang motif buna harganya jauh lebih mahal ketimbang yang sotis. Sedangkan motif Biboki cenderung kalem menggunakan warna2 tanah.
Tenunan ini bisa kita dapatkan di Pasar Maubesi, sekitar 15 km dari Kefa ke arah Atambua, setiap hari Kamis. Di sana kita bisa menemui para penenun membawa langsung tenunannya ke pasar dan menjualnya di sana. Jika kita beruntung kita bisa dapat mendapatkan kain dengan kualitas baik dengan harga yang murah, tapi kalau lagi apes ya barang murah dengan kualitas seadanya, sehingga diperlukan kesabaran untuk memilih berbagai macam tenun yang disodorkan oleh para penenun di tempat terbuka sambil berdiri di pasar.
Sedangkan di kota kita bisa mendapatkannya di beberapa toko yang khusus menjual souvenir khas NTT, di sana barang2nya merupakan barang pilihan sehingga harganya cukup berbeda. Beberapa tempat yang disarankan:
- Biboki Art Shop di belakang Terminal Bis Kefamenanu
- Ibu Merry Niron, di depan Gereja Naesleu
Selain tenun ikat dalam bentuk lembaran, kita juga bisa mendapatkan tenun ikat yang sudah dibuat tas, dompet, kopiah, dasi, tempat alkitab, dll. Selain itu juga ada Kipas, tasbih, dan rosario cendana.
Posted by
Astri
at
15:31
1 comments
Labels: Perjalanan
Tuesday, June 27, 2006
Surabaya - Timor
Kalau ada yang mau merencanakan trip ke P. Timor ini ada itinerarynya.
Surabaya - Kupang (Pesawat)
Ada 5 pilihan maskapai penerbangan:
Trans Nusa/Trigana Air/Pelita Air, 7 pagi
Merpati, 8 pagi
Sriwijaya Air,10 pagi
Batavia Air, 16.xx (lupa)
Lion Air , 17.55
Perjalanan udara ini memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit tanpa transit.
Sesampainya di Bandara El Tari, kita dapat menggunakan taksi bandara untuk keluar. Biaya taksi ini sekitar 50 ribu untuk ke kota Kupang.
Jika ingin melanjutkan ke kota2 lain di P. Timor kita dapat menggunakan bus antar kota atau travel.
Bus antar kota dapat kita temukan di Terminal Oebobo. Tujuannya antara lain ke SoE, Kefamenanu, Atambua, Besikama, dll.
Sedangkan kalau memilih travel selain ke melewati ibukota2 kabupaten di P. Timor juga dapat membawa kita sampai ke Dili, Timor Leste. Kalau tidak salah ada 3 penyedia jasa travel sampai ke Dili tapi yang saya ingat kebetulan hanya 2 yaitu Timor Travel dan Leste Oeste.
Sedangkan yang berminat melanjutkan perjalanan ke pulau2 lain di NTT selain P. Timor, yaitu, P. Flores, P. Sumba, P. Alor, P. Rote, dll. Dapat menggunakan pesawat terbang atau kapal laut. Ada dua maskapai yang melayani penerbangan di propinsi ini yaitu Merpati dan Trans Nusa. Sedangkan jika memilih kapal laut dapat melalui Pelabuhan Laut Tenau.
Posted by
Astri
at
08:54
1 comments
Labels: Perjalanan
Sunday, May 28, 2006
Madura Trip (1)
Dasar JSer, ada satu yang mau jalan ke Madura yang lain langsung menyusul. Dimulai dari rencana ke Festival Jajanan Surabaya yang batal karena jajanannya ndak tiiiit.... kemudian dimotori Yuyun yang sedang menelusuri makanan asli Madura dan berniat mewawancarai sumbernya langsung, kami gerombolan JSer Surabaya: Erni S, Rudy S, Peipei, dan saya sendiri langsung ‘menyusul’ kepergian Yuyun ke Madura.
Kami berempat (minus Yuyun yang sudah ada di Kamal) berangkat dari rumah Bu Erni dan Pak Rudy sekitar pukul 10.45 wib kmdn menuju Pelabuhan untuk menaiki ferry menuju Kamal, diam2 ini ternyata perjalanan petama Peipei mengunjungi “Negara Madura”, perjalanan melintasi Selat Madura selama kurang lebih 40 menit ditemani oleh goyangan ferry yang tumben2nya terasa.
Lawatan ke negara tetangga ini menghabiskan biaya 50 rb untuk 1 mobil + sopir, dan masing2 3rb rupiah untuk para penumpangnya
Setelah mendarat di Kamal dan menjemput Yuyun yang sudah nangkring di rumah sebelah mesjid yang tampak dari Selat Madura, kami meneruskan perjalanan menuju Bangkalan untuk mencoba Nasi Campur “Toloto” di warung Nyalete (bener gak ya nulisnya?) Nasi dengan teman: dendeng, daging Toloto, suun, dan sedikit sambal di pinggir piring langsung licin tandas saya libas. Bumbu Toloto tampangnya antara bumbu rendang dan bumbu rujak, tapi rasanya nggak kuat, warna merah, kental dan tidak pedas. Total kerusakan 4 piring nasi campur + 1 gelas es teh, 1 gelas es jeruk, 1 gelas jeruk hangat, 1 gelas teh hangat dan 1 botol coca cola (La Cola) adalah 43 ribu rupiah.
Posted by
Astri
at
20:56
0
comments
Labels: Perjalanan
Madura Trip (2)
Setelah naga2 di perut diberi makan, kami sempat berkeliling-keliling tanpa arah dan memutuskan bertanya kepada pak Polisi (hehehe...) mengenai obyek wisata yang ada di Bangkalan, hasilnya: Mercusuar di Sembilangan, Air Mata Ibu dan apa lagi ya??? (Gak tau persis karena gak ikut nanya) Kami memutuskan pergi ke Mercusuar yang terletak di Sembilangan.
Jalannya jauh banget, melewati Pesarean HM Cholil ditambah setengah jam perjalanan dengan mobil. Untuk memasuki kompleks mercusuar tiap mobil dikenai tarif 3000 dan motor 500 rupiah. Mercusuar yang dibangun tahun 1879 (beda 100 tahun umurnya ma aku) pada masa Raja Willem III ini digunakan untuk menerangi pelayaran di Selat Madura, mempunyai ketinggian 60 meter dan terdiri dari 17 tingkat dengan anak tangga sejumlah 272 buah. What a sport!!! Cocok buat saya yang sudah hidup sedentary selama 3 bulan di Kefa. So, naiklah kami berlima sampai tingkat 16 dan melihat – lihat pemandangan sekitar Selat Madura. Dari sana kami bisa melihat Gresik dengan deretan cerobong asapnya. Surabaya tidak terlihat dari Mercusuar. Sayang, gerimis yang tiba2 datang mengganggu keasyikan kami mengamati pemandangan dari ketinggian...
Oya untuk dapat menaiki mercusuar ini kami diminta membayar 1000 per kepala untuk uang kebersihan oleh penjaga mercusuar.
Posted by
Astri
at
20:55
1 comments
Labels: Perjalanan
Madura Trip (3)
Dengan alasan capek naik turun tangga setinggi 16 tingkat, saat kembali ke Bangkalan kami memutuskan untuk memberi makan naga2 kami yang kelaparan. Kali ini yang dituju adalah Warung Amboina yang terletak di depan alun2 Bangkalan, di sebelah Mesjid Jamek. Menu yang terkenal selain Nasi Petis adalah Soto Babat. Di sini kami memesan 2 piring nasi campur (nasi petis + kuah rawon), 1 piring nasi petis, dan 1 mangkok soto babat + empal. Total kerusakan setelah ditambah Sprite dan GreenSands adalah 44 ribu rupiah.
Posted by
Astri
at
20:52
0
comments
Labels: Perjalanan
Sunday, October 23, 2005
A Glimpse about Kefamenanu
Ada sedikit yang berbeda di Kefa ini,
1. Angkot (aka Bemo aka Angdes) tanpa trayek
Jadi sebut aja ke mana kamu mau pergi, maka si Angkot bakal antar kamu ke tempat tujuan.
2. Bis antar kota serasa travel
Ini sama dengan no. 1 di atas, malahan kalo lagi naik bis pengen berhenti nyetop tukang jualan makanan bentar pun bisa. Malahan travel yang harusnya antar dari rumah ke rumah belum tentu mau nganter yang mblusuk2. Bis antar kota mau!
3. Bis antar kota angkut motor
Sumprit, dah beberapa kali liat motor diiketin di belakang bis, ckckckck.... gile bener!!!
4. Ojek
Ojek ko? Sapaan yang sering terdengar kalo kita jalan kaki. Ojek lebih banyak jumlahnya dari angkot, lebih cepat dan beroperasi sampe malam. Angkot cuma sampai jam 5 - 6 sore sa.
5. Makanan
Banyak Rumah Makan Padang bo!!! Lebih banyak daripada penjual masakan asli.
6. Siesta
Toko2 di sini sebagian besar tutup pada jam 12 - 1 siang dan kemudian buka kembali jam 4 sore sampai antara jam 8 - 9 malam.
Ini dulu yang bisa saya ceritakan tentang Kefa, lainnya menyusul ya...
Posted by
Astri
at
07:02
1 comments
Labels: Perjalanan




